Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur

Situs Gunung Padang adalah sebuah Situs Cagar Budaya berupa punden berundak yang berukuran paling besar di Indonesia. Berlokasi di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Photo koleksi Netgram.in

Situs ini pertama kali dilaporkan oleh penduduk setempat pada tahun 1979 dan sejak tahun 1980-an sampai saat ini telah diteliti oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Bandung, Direktorat Cagar Budaya dan Permuseuman, Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Banten, Universitas Indonesia, Universitas Pajajaran dan Masyarakat yang menaruh minat tentang latar belakang sejarah kebudayaan masa lalu.

Punden berundak Gunung Padang merupakan salah satu warisan budaya yang menggambarkan perilaku manusia prasejarah pada 2000 – 3000 tahun yang lalu. Punden berundak Gunung Padang adalah buatan manusia yang terbuat dari batu alam Andesit atau yang dikenal dengan nama batuan kekar kolom (coloumnar joint).

Rancangannya dibentuk dengan cara yang unik yaitu didirikan di atas satu bukit pada ketinggian + 895 m diatas permukaan air laut dengan luas Situs Gunung Padang  adalah 291.800 m2 dan tercatat sebagai punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Material dari Situs Gunung Padang merupakan batu-batu besar Andesit yang berbentuk persegipanjang dengan panjang sekitar satu meteran dimana batu-batu besar tersebut membentuk pondasi disekeliling Gunung Padang dan hampir memenuhi semua hamparan puncak Gunung Padang.

Jika dilihat dari lokasi dan bentuk yang tersisa di Situs Gunung Padang ini terlihat bahwa Situs ini merupakan sebuah Situs dimana orang-orang prasejarah membuat tempat ini sebagai tempat pemujaan atau sebagai pusat kegiatan spiritual terlebih ini dilihat dari setiap teras-terasnya yang memiliki pemaknaan tertentu.

Teras Pertama di Situs Gunung Padang (Photo koleksi Netgram.in)

Teras pertama di Gunung Padang merupakan teras terluas di situs Gunung Padang. Pada teras pertama ini terdapat gundukan tanah atau bukit kecil yang di sebut sebagai bukit masigit dan terdapat satu area di mana di ujung dalamnya terdapat batu gong. 

Pintu masuk ke area dimana batu gong berada (photo koleksi Netgram.in)

Berdasarkan penuturan juru rawat Situs Gunung Padang yaitu abah Deni, teras pertama adalah teras penyambutan atau berkesenian dimana di teras ini juga terdapat batu yang jika di pukul akan mengeluarkan bunyi dengan irama tertentu.

Master Dharma saat di Teras Kedua Situs Gunung Padang

Pada Teras kedua ini terdapat area yang di sebut area “mahkuta dunia” yaitu simbol dari jiwa sosial dan saling mengasihi. Di area ini bisa melihat semua area Teras kesatu karena posisinya berada diatas dan juga bisa memandang gunung-gunung yang ada di depannya termasuk gunung agung (gunung gede).

Batu Maung yang terukir di salah satu Batu Gunung Padang (Photo koleksi Netgram.in)

Pada Teras kedua ini juga terdapat area yang disebut batu duduk, dan batu-batu dengan bentuk telapak kaki manusia dan seperti telapak kaki harimau (batu Tapak Maung). 

Batu Kujang yang terukir di salah satu Batu Gunung Padang (Photo koleksi Netgram.in)

Masuk di teras ke-3 terdapat batu Kujang, yaitu batu yang terukir seperti senjata khas Sunda yaitu Kujang. Senjata Kujang sendiri merupakan Senjata khas Sunda yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran.

Masuk di teras ke-4 terdapat Batu Kanuragaan atau Batu Penguji. Makna dari batu ini adalah setiap manusia yang ingin mencapai PUNCAK harus bisa melewati sebuah Ujian, bilamana manusia tersebut mampu melewati setiap ujian yang ada barulah ia bisa sampai kepuncak kesuksesan yang akan di gambar pada teras ke-5 dimana terdapat Batu Singgasana Raja.

Batu Singgasana Raja di Situs Gunung Padang (Photo koleksi Netgram.in)

Masuk ke Teras ke-5 inilah Teras terakhir di Situs Gunung Padang dan di teras ke-5 ini terdapat Batu Singgasana Raja. di teras ini dipercaya bahwa Raja Pajajaran yaitu Prabu Siliwangi pernah melakukan meditasi di tempat ini.   

Selain terdapat area di mana Batu Singgasana Raja berada, di posisi belakang nya juga terdapat sebuah maqom atau petilasan yang menurut juru rawat Situs Gunung Padang itu adalah Petilasan Putri Bungsu Prabu Siliwangi di sebelah kiri posisinya dan di posisi tengah terdapat Batu Pendaringan atau petilasan Sunan Ambu dan Sunan Rama, serta posisi di sebelah kanannya terdapat petilasan Eyang Bengkong Sakti. 

Abah Deni (Juru Rawat Situs Gunung Padang) Bersama Master Dharma

Jika dimaknai secara spiritual, Situs Gunung Padang mengajarkan bahwa dalam menjalani kehidupan ini kita harus melewati tahap-tahap tertentu, dari Niat Suci, kemudian menjalani kehidupan melalui anak-tangga kehidupan, kemudian baru memasuki tahap kehidupan yang di gambarkan oleh setiap teras di Situs Gunung Padang, sampai titik puncaknya sampai di teras kelima.

Tampilkan Produk/Brand/Usaha Anda di Netgram.in

About Author /

NetGram adalah Majalah Online yang Membahas Trend Bisnis dan Gaya Hidup Masyarakat Indonesia. Untuk Liputan & Pemasangan Iklan hubungi: 08984458211

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Start typing and press Enter to search